Tingkatan Kitab Nahwu

Apakah Anda sedang mencari Tingkatan Kitab Nahwu, jika iya? maka Anda berada di website yang tepat.

Jangan lupa berdoa biar ilmunya berkah!

tingkatan kitab nahwu

soal: Tingkatan Kitab Nahwu

jawaban:

Tingkatan kitab nahwu menjadi aspek penting dalam dunia pesantren, santri tidak hanya belajar mengaji dan membaca Al-Qur’an saja, tapi juga yang paling penting adalah belajar tata bahasa arab, nahwu. Terutama untuk membaca kitab kuning.

Tidak seperti Al-Qur’an, kitab kuning terkenal dengan istilah kitab gundul tanpa harakat (tidak ada fathah,kasroh ataupun dhommah).

Ilmu nahwu sendiri merupakan ilmu yang mempelajari struktur dan tatanan (bentuk huruf/harokat terakhir) dari suatu kata. Singkatnya ilmu nahwu adalah ilmu dasar dari tatanan bahasa arab yang tujuannya membantu pembaca mengerti isi dari bacaan pada kitab.

adapun beberapa tingkatan kitab nahwu sebagai berikut:

  • Matan Jurumiyyah, Karangan Muhammad bin Muhammad al-Shonhaji

Kitab ini berisi keterangan tentang pembahasan ilmu nahwu yang relatif lengkap namun tetap sederhana. Contohnya pun sangat sederhana namun menjadi pilihan dikebanyakan pesantren. Pembahasannya dimulai dari Bab tentang Kalam, selanjutnya kalimat dan tanda-tandanya. Yang menarik dari kitab ini, adalah dominasi contoh yang banyak menggunakan zaidun Qo’imun. Sehingga tidak mempersulit para santri dalam memahaminya.

  • Nadzam Imrithi : Karangan Syaikh Syarafuddin al-‘Imrithi

Pada tahap selanjutnya, biasanya Pondok Pesantren menggunakan Nadam Imrithi. Kitab ini memiliki syarah antara lain al-Duror al-Bahiyah. Nadzam ‘Imrithi menjadi pilihan selanjutnya, dikarenakan baitnya yang berjumlah sekitar 200 an ini relatif mudah untuk dihafalkan oleh para santri.

  • Mutammimmah / Kawakib Karangan Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Ahdal

Biasanya, setelah para santri selesai menempuh pembelajaran tahap sebelumnya, mereka disuguhkan kitab yang lebih tinggi pembahasannya, yakni kitab Kawakib al-Duriiyah, atau kiab Mutammimmah. Dari namanya saja,  yang berarti “penyempurna” didalamnya memiliki pembahasan yang lebih luas dibandingkan beberapa kitab sebelumnya.

Contoh yang ditampilkan juga mulai beragam. Bahkan juga disebutkan beberapa perbedaan ulama ahli gramatika seperti Ulama Kufah dan dan Ulama Bashrah.

  • Al-Fiyah Ibnu Malik Karangan Muhammad ibn Abdillah ibn Malik al-Thai, al-Andalusi

Mungkin para santri, khususnya yang sudah mengenyam pendidikan pesantren yang relatif lama tidak asing dengan nadzam Alfiyah ini. Kitab yang memuat 1000 bait lebih berkenaan dengan ilmu gramatika ini sampai-sampai sering dijadikan rujukan kealiman seseorang. Bagaimana tidak, butuh pengorbanan untuk sekedar mengafalkannya, terlebih lagi untuk memperdalaminya.

Saking istimewanya kitab ini, terdapat kitab yang menerangkan sisi tashawwuf dari kitab Alfiyah ini. Dan jika para santri telah usai menghafal nadzam ini, biasanya mereka memperdalaminya dengan mempelajari kitab Syarah Alfiyah.

  • Ibnu Aqil Syarah Ibnu Malik Karangan Bahauddin Abdullah bin ‘Aqil al-‘Aqli

Kitab ini sebenarnya salah satu diantara kitab syarah Nadzam Alfiyah [kitab sebelumnya]. Banyak kalangan beranggapan bahwa sebenarnya para santri yang sudah belajar Ibnu ‘Aqil dan menguasainya, sudah layak untuk dianggap sebagai Nuhat [Ahli Nahwu].

Bagaimana tidak, kitab ini sangat luas pembahasannya, dan didalamnya juga dipaparkan secara lengkap berbagai macam perbedaan para ulama tentang sebuah masalah gamatika. Dan tidak jarang, contohnya pun diambilkan dari syair-syair arab.

Baca juga: Nama-nama kitab yang di pelajari di Pesantren

Demikian yang dapat Teknik Area bagikan, tentang Tingkatan Kitab Nahwu. Sekian dan terima kasih telah mengunjungi www.teknikarea.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel Agama berikutnya.

Don`t copy text!