Jenis-Jenis Aspal Jalan

Apakah Anda sedang mencari jenis-jenis aspal, jika iya? maka Anda berada di website yang tepat. Karena pada artikel kali ini kami akan membagikan jenis/macam aspal jalan yang sering digunakan.

Jenis-Jenis Aspal

Aspal minyak (disebut juga aspal semen, aspal keras, bitumen, atau aspal baku) adalah kumpulan bahan-bahan tersisa dari proses destilasi minyak bumi, sisa produk kilang minyak, Selain aspal minyak kita mengenal juga aspal alam, contohnya “Trinidad Lake Asphalt”, dan juga di pulau Buton ada aspal alam Kabungka dan aspal alam Lawele, demikian juga dibeberapa tempat di Indonesia maupun di Kanada. Kita juga mengenal aspal olahan seperti Aspal Semen, Aspal Emulsi, Aspal Cair, Aspal Modifikasi dan sebagainya.

1. Aspal Minyak

Aspal minyak adalah bahan tersisa yang dianggap sudah sudah tidak lagi bisa diproses secara ekonomi dari proses destilasi minyak bumi di pabrik kilang minyak. Bahan tersebut kita kenal dalam tiga kelas Penetrasi yaitu Diklat Penggunaan Bahan & Alat Untuk Pekerjaan Jalan & Jembatan Modul Bahan Aspal Untuk Perkerasan Lentur 2 Pen 40/50, Pen 80/70 dan Pen 80/100. Semakin rendah angka penetrasi maka akan semakin keras wujud aspal, semakin susah cara penanganannya karena diperlukan suhu lebih tinggi agar aspal menjadi lunak atau cair. Sebaliknya semakin tinggi angka penetrasi maka aspal akan mudah encer, mudah dikerjakan, tetapi terancam sulit untuk mencapai kestabilan campuran aspal, terutama pada iklim panas seperti di Indonesia, karena aspal cenderung melunak pada suhu udara tinggi.

Pengerjaan aspal umumnya memerlukan pemanasan pada suhu sekitar 1100° – 1700°C supaya aspal menjadi encer sehingga mudah untuk dipompa, dipindahkan dan dicampur dengan agregat ataupun dipadatkan. Kalau aspal dipanaskan berkali-kali dan dalam waktu lama, maka banyak minyak aromatik yang menguap sehingga aspal mengeras, artinya angka penetrasinya menurun. Aspal dengan penetrasi rendah akan gampang kena oksidasi sehingga menjadi getas, kehilangan daya lengketnya, akibatnya lapis aspal akan terburai atau lepas butir. Karena itu di Indonesia ditetapkan bahwa angka terendah untuk penetrasi bahan aspal adalah 50 (Spesifikasi Bina Marga sejak tahun 2003). Aspal yang diolah menjadi campuran beraspal akan mengalami oksidasi akibat sinar matahari dan mencapai penetrasi 25, yaitu batas terendah penetrasi sebelum terburai.

jenis jenis aspal jalan

Pada wilayah yang belum berkembang, jalan masih sepi lalu lintas, panjang jalan masih sedikit, beban sumbu kendaraan belum berat, kita mengenal cara pelaksanaan pekerjaan lapis perkerasan dengan Metoda Surface Dressing (Burtu/Burda) dan Metoda Penetrasi Macadam. Aspal dengan angka penetrasi rendah (pen 40/50) sangat sesuai dengan metode ini dan pekerjaannya dilaksanakan secara padat karya, dimana aspal dipasok dengan drum-drum yang berfungsi sekaligus sebagai “storage tank”. Pemanasan cukup memakai kayu bakar dipinggir jalan, dan ketika aspal panas tersebut dikucurkan ke permukaan lapis batuan yang telah dipadatkan setengah jadi (lapisan masih berongga besar), maka aspal 40/50 (penetrasi rendah, aspal keras) akan cepat mengering, cepat dingin dan mengental. Aspal tidak akan “drain off” (mengalir kebawah). Sangat sesuai, karena aspal tersebut diperlukannya diatas permukaan, untuk menutup rongga agar tidak tembus air.

Baca juga  Etika Tender Pengadaan Barang Dan Jasa

Sebaliknya untuk membuat Beton aspal sebisa mungkin menggunakan aspal dengan penetrasi tinggi (aspal lunak) karena proses pencampuran dan pengangkutan memerlukan waktu lama, yang menyebabkan menguapnya minyak-minyak alami dan mengakibatkan aspal kering dan kehilangan daya lengketnya. Hot Rolled Sheet (HRS) pada tahun 80-an pernah menggunakan aspal pen 80/100, menggunakan gradasi senjang untuk membentuk rongga antar butir (void) yang lebih besar, banyak butir kecil sehingga membantu menahan aspal pada matrixnya, karena itu kadar aspal dalam campuran HRS biasanya >7% (beton aspal jenis lain umumnya berkisar hanya 5,3 – 5,8%). Peningkatan kadar aspal pada HRS agar lapis perkerasan tidak mudah retak (karena lebih lentur), permukaan lebih kedap, tidak mudah retak, tidak mudah berlubang. Kelemahannya adalah terlalu lunak dan lentur sehingga mudah bergelombang. Bila dalam kecepatan tinggi, mobil akan bergetar dan mudah lepas kendali. Dengan pengalaman tersebut diatas, maka dipilihlah aspal minyak dengan angka penetrasi 60/70 sebagai bahan perkerasan beraspal.

Di negara lain selain kelas Penetrasi dikenal juga kelas Viskositas, di Australia dikenal AC-2,5, AC-5 dst. Ada juga kelas Performance Grade, misalnya yang dikaitkan dengan ketahanannya terhadap suhu, PG 64-10,PG 70-20 dst.

2. Aspal Emulsi

Aspal emulsi adalah campuran aspal dengan air (60-70%) dalam bentuk emulsi, sehingga molekul-molekul aspal melayang didalam air. Hal ini dimungkinkan karena adanya bahan tambah bersifat katalis. Pencampuran aspal dengan air dan katalis tadi dilewatkan mesin colloidmill. Saat aspal emulsi disimpan lama (sekitar 3 bulan) maka emulsi bisa terlepas (break) dan aspal mengendap ke dasar kontainer/ drum. Agar ikatan emulsi terbentuk lagi, cukup digoyang goyang atau digelinding-gelindingkan. Penggunaan aspal emulsi yang paling baik adalah sudah digunakan sebelum terlepas ikatan emulsinya.

Penggunaan aspal emulsi biasanya pada hal-hal sebagai berikut:

  • Untuk lapis beton aspal campuran dingin misalnya pada daerah yang belum punya AMP tetapi ingin kualitas jalannya setara dengan aspal beton aspal), pada lokasi yang tidak boleh ada api terbuka misalnya wilayah pemboran minyak, komplek penyimpanan bahan bakar,
  • Untuk lapis Tack coat, Prime coat atau campuran untuk bahan “tambal siap pakai”.

Tahun 1993 pernah dicoba pemakaian aspal emulsi untuk beton aspal campuran dingin dengan tebal 0,8 cm yang menggunakan mesin penggetar khusus (teknologi dari Spanyol), disebut teknologi lapis tipis Macroseal (secara generik dikenal sebagai teknologi slurry seal). Lapis tipis ini dimaksudkan sebagai lapis pelindung untuk menahan air dan meningkatkan kekesatan permukaan jalan (misalnya pada permukaan perkerasan kaku yang sudah licin, daripada melakukan re-grooving yang dianggap terlalu lambat dan mahal).

3. Aspal Busa (foamed asphalt)

Adalah aspal panas yang dicampurkan dengan air secara mendadak sehingga aspal berbusa dan seketika menjadi semacam emulsi yangdapat dimanfaatkan keencerannya untuk membentuk lapis tipis aspal yang menyelimuti agregat.

Aspal busa ini kita kenal sebagai bagian dari proses Recycling beton aspal yang dilakukan di bagian ruas permukaan jalan di Pantura.

4. Cutback asphalt

Adalah aspal yang dicairkan dengan cara ditambah pelarut dari keluarga hidrokarbon (minyak tanah/kerosin, bensin, solar). Untuk Primecoat dan Tackcoat digunakan jenis Rapi Curing (RC), Medium Curing (MC) atau Slow Curing (SC).

Baca juga  Wajib Baca! Ini Contoh Tender dan Seluk Beluknya

Saat ini, aspal Emulsi mulai digunakan sebagai Tackcoat karena aspal Cutback yang dicampur bensin sering menimbulkan kebakaran, demikian juga bila menggunakan pelarut kerosene atau solar sering tidak sempat menguap, sehingga ketika campuran beton aspal harus digelar diatasnya, aspal beton terkontaminasi pelarut yang mengakibatkan aspal beton menjadi lunak dan pada akhirnya menimbulkan problem perubahan bentuk (deformasi, bleeding, licin).

5. Aspal Modifikasi

Nama lain dari Aspal Modifikasi adalah Polymer Modified Asphalt (PMA) atau Polymer Modified Bitumen (PMB), ini adalah aspal minyak ditambah dengan bahan tambah (additive) agar meningkat kinerjanyanya, yaitu aspal yang tahan beban dan tahan lama (awet). Di Indonesia, kesadaran untuk menggunakan aspal modifikasi karena diperlukan hal-hal sebagai berikut :

  • aspal yang lebih tahan panas (menaikkan titik lembek), digunakan aditif berbasis plastomer, elastomer, selulosa, filler atau penambahan asphalten seperti asbuton, gilsonite, Trinidad asphalt, atau aditif khusus dengan sifat beragam (jenis jenis polimer tertentu). Aspal polimer biasanya merupakan produk hilir dari pabrik kilang minyak.
  • aspal yang lebih lengket (menaikkan adhesi) agar agregat tidak mudah terburai, digunakan aditif yang bersifat lengket dan lentur yaitu aditif yang berbasis karet.
  • aspal yang lebih tahan ultra violet agar tidak mudah menua (ageing).

Sebagai gambaran, di pasar kita mengenal Aspal modifikasi yang telah dijual di Indonesia (dan ini sudah sejak tahun 1996) seperti : High Bonding Asphalt, Mexphalt, Cariphalt, Bituplus, Superfleks, Superphalt, Starbit, Aspal Prima 50, Retona dsb.

6. Aspal Buton (asbuton)

Adalah aspal alam yang terdapat di pulau Buton, berupa batuan yang mengandung aspal (rock asphalt) yang ditemukan sejak tahun 1920, dengan cadangan lebih dari 600 juta ton, terbesar didunia. Ada dua lokasi tambang di Buton, yaitu di Kabungka dan Lawele. Perbedaan aspal Kabungka dan aspal Lawele adalah sebagai berikut :

  • Aspal Buton Kabungka, batuan induknya adalah batu kapur, dan aspalnya meresap kedalam pori-pori batuan sebesar 12-20%, karena itu penambangannya menggunakan bahan peledak. Batuan dipecah menjadi kecil-kecil dengan mesin pemecah batu (stone crusher). Aspal alam Kabungka yang dalam bentuk curah dikirim dengan tongkang dan dump truck ke proyek yang akan memanfaatkannya. Selanjutnya proses pengaktifan aspal adalah dengan mencampur aspal curah tersebut dengan modifier (minyak pelarut khusus) dengan tujuan menjemput aspal alam Kabungka dari cangkangnya melalui pemeraman selama 2 – 5 hari. Hasil dari pemeraman tersebut adalah maka terjadilah mastik yang siap dicampur dengan agregat menjadi campuran aspal yang siap gelar.
  • Aspal Buton Lawele, batuan induknya adalah batuan Silika, dimana aspalnya tidak meresap tetapi menempel di batuan sebanyak 20 – 35%, sehingga lebih mudah diaktifkan (tidak perlu pemeraman seperti pada proses pengaktifan aspal di aspal Kabungka). Kesulitan penanganan aspal Buton Lawele justru terletak pada kelengketannya yang terlalu tinggi (bergumpal-gump) sehingga susah untuk ditakar menurut jumlah yang dibutuhkan.

Baca juga Apa yang dimaksud dengan Aspal ?

Penutup

Demikian yang dapat Teknik Area bagikan, tentang jenis-jenis aspal jalan. Sekian dan terima kasih telah mengunjungi www.teknikarea.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel teknik sipil berikutnya.

Leave a Comment